Jobkita.com – Jakarta, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) menyebut intensifikasi pemberantasan rokok ilegal oleh pemerintah sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap operasional perseroan.
Direktur Gudang Garam Istata Tasin Siddharta mengatakan perseroan belum dapat menghubungkan keberhasilan pemberantasan rokok ilegal dengan kinerja operasional GGRM saat ini. Menurut dia, pemberantasan tersebut mungkin memberikan dampak positif, tetapi perseroan belum merasakannya secara berarti.
Pernyataan itu disampaikan Istata dalam Public Expose 2026 pada Kamis (10/10/2026). Ia juga menegaskan bahwa perkembangan pasar dan struktur biaya masih menjadi pertimbangan utama dalam menentukan arah bisnis Gudang Garam.
Rokok ilegal unggul dari sisi perbedaan harga
Direktur Gudang Garam Heru Budiman menjelaskan, tekanan rokok ilegal terutama terlihat dari perbedaan harga dengan produk legal. Produsen legal harus menanggung beban cukai, sedangkan produk tanpa pita cukai memiliki struktur biaya yang jauh lebih rendah.
Heru memberikan gambaran melalui produk sigaret kretek mesin (SKM) isi 12 batang. Harga jual produk tersebut sekitar Rp 26.000, sementara cukai yang disetorkan Gudang Garam mencapai sekitar Rp 19.000.
Dengan demikian, net sales proceeds atau hasil penjualan bersih setelah pembayaran cukai berada di kisaran Rp 7.000. Heru menegaskan, angka tersebut bukan keuntungan perusahaan, melainkan hasil penjualan setelah dikurangi cukai.
Sebaliknya, produsen rokok ilegal dapat menjual produk dengan harga lebih rendah karena tidak membayar cukai sesuai ketentuan. Misalnya, produk yang dijual Rp 12.000 per bungkus dapat mencatat seluruh nilai tersebut sebagai net sales proceeds.
Gudang Garam harus menjaga harga dan arus kas
Perbedaan struktur biaya itu membuat produsen legal menghadapi tantangan ketika mempertahankan daya saing. Gudang Garam harus menjaga harga agar tetap kompetitif, sekaligus memastikan perseroan tidak mengalami arus kas negatif.
Heru mengatakan perseroan tidak dapat terus menaikkan harga karena harus bersaing dengan produk lain di kelas yang sama. Selain itu, Gudang Garam berupaya agar produknya tidak menjadi yang paling mahal karena kondisi tersebut dapat mendorong konsumen melakukan down trading atau beralih ke produk yang lebih murah.
Tekanan tersebut berlangsung ketika segmen SKM Gudang Garam masih menghadapi penurunan pendapatan dalam lima tahun terakhir. Karena itu, perseroan perlu menyeimbangkan strategi volume penjualan dan profitabilitas.
Strategi SKM masih bergantung pada kondisi pasar
Istata mengatakan arah bisnis SKM ke depan akan bergantung pada pilihan perseroan, apakah lebih fokus mempertahankan volume atau menjaga tingkat profitabilitas. Perseroan belum dapat memastikan apakah tekanan terhadap volume SKM sudah mencapai titik terendah atau masih akan berlanjut.
Kondisi pasar juga dipengaruhi kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan tarif cukai rokok selama beberapa tahun. Menurut Istata, situasi tersebut dapat membantu perseroan mempertahankan volume penjualan SKM.
Namun, perkembangan struktur biaya dan pasar tetap akan menjadi pertimbangan. Gudang Garam belum memastikan apakah pada periode berikutnya harus kembali mengorbankan volume untuk mempertahankan profitabilitas, atau sebaliknya mengurangi profitabilitas demi mendorong volume penjualan.








