JAKARTA – JobKita.com – Lulusan perguruan tinggi masih menghadapi tantangan besar saat memasuki pasar kerja. Data terbaru menunjukkan pengangguran sarjana cukup banyak berasal dari sejumlah bidang studi populer.
Temuan tersebut berasal dari kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI). Kajian itu menggunakan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Pengangguran sarjana menjadi perhatian karena jumlah lulusan pendidikan tinggi terus bertambah. Namun, pertumbuhan lulusan belum selalu diikuti dengan penyerapan tenaga kerja yang seimbang. Kondisi ini membuat persaingan mencari pekerjaan semakin ketat.
Pengangguran Sarjana Banyak Berasal dari Manajemen
LPEM FEB UI mencatat lulusan Manajemen menjadi kelompok terbesar dalam komposisi penganggur berpendidikan minimal S1. Proporsinya mencapai sekitar 10,3 persen.
Setelah Manajemen, lulusan Hukum berada di posisi berikutnya dengan proporsi sekitar 9 persen. Kemudian, lulusan Ekonomi mencapai 8,7 persen.
Bidang Pendidikan juga menyumbang bagian cukup besar. Proporsinya berada di kisaran 7,1 persen. Sementara itu, Akuntansi menyumbang sekitar 5,1 persen.
Jika digabungkan, lima bidang tersebut mencakup sekitar 40 persen dari penganggur berpendidikan minimal S1 dalam data yang menjadi acuan kajian. Angka tersebut menunjukkan besarnya kontribusi bidang studi dengan jumlah lulusan yang relatif besar.
Namun, data itu tidak berarti lulusan bidang tersebut memiliki peluang menganggur paling tinggi. Jumlah lulusan dari setiap bidang juga perlu diperhitungkan sebelum menarik kesimpulan.
LPEM FEB UI menegaskan bahwa bidang studi dengan jumlah lulusan besar secara alami berpotensi menghasilkan jumlah penganggur yang lebih banyak. Karena itu, proporsi penganggur tidak dapat langsung digunakan untuk menentukan jurusan dengan prospek kerja paling buruk.
Mengapa Lulusan Manajemen Banyak Menganggur?
Manajemen merupakan salah satu jurusan yang tersedia di banyak perguruan tinggi. Program tersebut juga memiliki cakupan keilmuan yang luas.
Lulusannya dapat bekerja dalam berbagai bidang. Misalnya, administrasi, pemasaran, sumber daya manusia, perbankan, keuangan, hingga pengelolaan bisnis.
Di satu sisi, pilihan pekerjaan yang luas menjadi keuntungan. Namun, kondisi tersebut juga menciptakan persaingan yang besar.
Lulusan Manajemen tidak hanya bersaing dengan sesama lulusan Manajemen. Mereka juga berhadapan dengan lulusan Ekonomi, Akuntansi, Administrasi Bisnis, Komunikasi, hingga Ilmu Sosial.
Banyak posisi pekerjaan tingkat awal memiliki persyaratan pendidikan yang cukup umum. Karena itu, perusahaan dapat menerima pelamar dari berbagai latar belakang pendidikan.
Selain itu, perusahaan kini semakin mempertimbangkan kemampuan praktis. Gelar sarjana saja belum tentu cukup untuk membuat seorang pelamar unggul dalam proses rekrutmen.
Pengalaman magang, kemampuan menggunakan perangkat digital, komunikasi, analisis data, dan kemampuan bekerja dalam tim menjadi faktor yang semakin penting.
Lulusan Hukum dan Ekonomi Juga Menghadapi Persaingan
Lulusan Hukum menempati posisi kedua dalam komposisi pengangguran sarjana berdasarkan bidang studi. Proporsinya tercatat sekitar 9 persen.
Hukum sebenarnya mempunyai jalur profesi yang cukup beragam. Lulusan dapat mengejar karier di perusahaan, lembaga pemerintahan, perbankan, konsultasi, maupun sektor layanan profesional.
Namun, tidak semua lulusan bekerja pada bidang yang berhubungan langsung dengan hukum. Sebagian akhirnya masuk ke pasar kerja umum.
Kondisi serupa terjadi pada lulusan Ekonomi. Bidang tersebut memiliki cakupan pekerjaan yang luas. Lulusannya dapat bekerja dalam sektor keuangan, perbankan, perusahaan, pemerintahan, hingga riset.
Namun, luasnya pilihan juga membuat persaingan semakin terbuka. Lulusan dari berbagai jurusan dapat melamar posisi yang sama.
Karena itu, mahasiswa perlu membangun kompetensi tambahan sejak masih kuliah. Kemampuan tersebut dapat menjadi pembeda ketika memasuki dunia kerja.
Lulusan Pendidikan Menghadapi Tantangan Berbeda
Bidang Pendidikan menyumbang sekitar 7,1 persen dari penganggur berpendidikan minimal S1. Kelompok ini memiliki cakupan program studi yang cukup beragam.
Ada lulusan pendidikan guru, bahasa, ekonomi, sains, hingga pendidikan vokasi. Setiap bidang memiliki kebutuhan tenaga kerja yang berbeda.
Salah satu tantangan berada pada pola rekrutmen tenaga pendidik. Ketersediaan formasi tidak selalu sama dengan jumlah lulusan setiap tahun.
Selain itu, kebutuhan sekolah juga berbeda antarwilayah. Persyaratan profesi dan kebijakan rekrutmen turut memengaruhi kesempatan kerja.
Meskipun begitu, tingginya angka tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk menyebut bidang Pendidikan tidak memiliki masa depan. Kebutuhan tenaga pendidik tetap ada, tetapi jalur masuknya ke pasar kerja dapat berbeda.
Informatika Tetap Punya Peluang, tetapi Kompetisi Meningkat
Menariknya, Ilmu Komputer atau Informatika juga masuk dalam daftar bidang studi dengan jumlah penganggur sarjana yang cukup besar. Proporsinya sekitar 4,6 persen.
Temuan ini terlihat berlawanan dengan anggapan bahwa sektor digital selalu menawarkan lapangan kerja yang luas. Namun, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati.
Kebutuhan industri terhadap tenaga digital memang berkembang. Akan tetapi, perusahaan juga membutuhkan keterampilan yang sesuai dengan teknologi terbaru.
Lulusan Informatika memiliki kemampuan yang sangat beragam. Tidak semua mahasiswa memiliki tingkat penguasaan teknologi, pengalaman proyek, dan keterampilan praktis yang sama.
Karena itu, mahasiswa perlu memperbarui kemampuan secara berkala. Portofolio proyek juga dapat membantu menunjukkan kemampuan kepada calon pemberi kerja.
Beberapa kemampuan yang dapat menjadi nilai tambah antara lain:
- Analisis data dan pengolahan informasi.
- Pemrograman dan pengembangan perangkat lunak.
- Pemahaman teknologi kecerdasan buatan.
- Keamanan siber dan pengelolaan sistem.
- Kemampuan komunikasi dan kerja sama tim.
- Pengalaman magang atau proyek nyata.
Data Pengangguran Sarjana Perlu Dibaca Secara Tepat
Data LPEM FEB UI menunjukkan persoalan ketenagakerjaan tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan kerja. Kesesuaian keterampilan lulusan dengan kebutuhan perusahaan juga menjadi faktor penting.
Pada Februari 2026, jumlah pengangguran tercatat sekitar 7,24 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 14,27 persen merupakan lulusan Diploma IV, S1, S2, dan S3.
Sementara itu, data Sakernas Mei 2026 mencatat jumlah pengangguran sekitar 7,22 juta orang. Proporsi lulusan Diploma IV hingga jenjang pascasarjana mencapai sekitar 14,31 persen.
Angka tersebut menunjukkan pengangguran masih menjadi tantangan meskipun jumlahnya mengalami perubahan. Pendidikan tinggi belum otomatis menjamin seseorang langsung memperoleh pekerjaan.
Namun, kondisi itu juga tidak berarti kuliah menjadi tidak penting. Pendidikan tetap memberikan dasar pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk memasuki berbagai sektor pekerjaan.
Di sisi lain, mahasiswa perlu mempersiapkan diri lebih awal. Penguasaan keterampilan praktis dapat membantu memperkecil jarak antara pendidikan dan kebutuhan industri.
Jurusan Kuliah Bukan Satu-Satunya Penentu Karier
Temuan LPEM FEB UI menjadi pengingat bahwa pilihan jurusan bukan satu-satunya faktor penentu masa depan pekerjaan. Kemampuan, pengalaman, jaringan, serta perubahan kebutuhan industri juga berpengaruh.
Karena itu, mahasiswa sebaiknya tidak hanya mengejar nilai akademik. Pengalaman organisasi, magang, sertifikasi, dan proyek dapat memberikan pengalaman yang relevan.
Bagi lulusan baru, pencarian kerja juga membutuhkan strategi. Pelamar dapat memperluas pilihan sektor tanpa meninggalkan kompetensi utama yang dimiliki.
Sementara itu, perguruan tinggi perlu terus menyesuaikan pembelajaran dengan perkembangan pasar kerja. Hubungan yang lebih kuat antara kampus dan industri dapat membantu mahasiswa memahami kebutuhan dunia profesional.
Pada akhirnya, data pengangguran sarjana berdasarkan bidang studi harus dibaca sebagai gambaran pasar tenaga kerja. Data tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa satu jurusan lebih buruk daripada jurusan lainnya.
LPEM FEB UI sendiri menekankan perlunya membandingkan jumlah penganggur dengan total angkatan kerja dari masing-masing bidang studi. Perbandingan tersebut akan memberikan gambaran yang lebih tepat mengenai risiko pengangguran.
Dengan demikian, Manajemen, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, maupun bidang lainnya tidak bisa langsung dicap sebagai jurusan dengan prospek kerja buruk. Tantangan utamanya adalah bagaimana lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berubah.





