Berita

Masa Depan Anak Muda Sulit Kaya, Gaji Mandek

JobKITA.com

JobKita.com – Jakarta – Masa depan anak muda sulit kaya kini menjadi sorotan setelah berbagai data menunjukkan stagnasi pendapatan dan meningkatnya biaya hidup. Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu negara, tetapi juga terlihat di berbagai negara maju, termasuk Inggris.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa generasi muda saat ini tidak lagi memiliki peluang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Padahal, selama beberapa dekade, ada keyakinan bahwa setiap generasi akan hidup lebih sejahtera.

Namun, realitas terbaru menunjukkan hal berbeda. Masa depan anak muda sulit kaya bukan sekadar persepsi, melainkan didukung data terkait pekerjaan, pendapatan, dan kepemilikan rumah yang semakin menantang.

Peluang Kerja Menurun di Usia Produktif

Salah satu indikator utama adalah menurunnya tingkat pekerjaan di kalangan anak muda. Data menunjukkan bahwa generasi kelahiran akhir 1990-an hingga awal 2000-an memiliki tingkat bekerja sekitar 74% saat usia 25 tahun.

Sementara itu, generasi sebelumnya mencatat angka lebih tinggi, yaitu sekitar 77%. Selisih ini memang terlihat kecil, namun cukup signifikan untuk menggambarkan melemahnya peluang kerja.

Selain itu, peningkatan jumlah anak muda yang tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan atau dikenal sebagai NEET semakin memperparah situasi. Kondisi ini mulai meningkat sejak 2022.

Di sisi lain, tren sebelumnya menunjukkan stabilitas bahkan peningkatan peluang kerja, terutama bagi perempuan. Namun, kini tren tersebut berbalik arah.

Upah Mandek Sejak Krisis Global

Selain peluang kerja, masalah lain yang memperkuat anggapan masa depan anak muda sulit kaya adalah stagnasi upah. Sebelum krisis keuangan global 2008, pendapatan generasi muda terus meningkat.

Sebagai gambaran, pendapatan tahunan usia 25 tahun naik dari sekitar £19.900 pada generasi lama menjadi £28.500 pada generasi berikutnya. Namun, setelah krisis, kenaikan tersebut berhenti.

Generasi terbaru hanya memperoleh pendapatan sekitar £28.000 per tahun, hampir sama dengan generasi sebelumnya. Artinya, tidak ada kemajuan signifikan dalam dua dekade terakhir.

Meskipun begitu, anak muda saat ini tidak bisa dikatakan lebih miskin. Namun, mereka tidak lagi merasakan pertumbuhan ekonomi yang pesat seperti generasi orang tua mereka.

Biaya Rumah Jadi Beban Terbesar

Sementara itu, biaya hidup terutama perumahan justru terus meningkat. Hal ini menjadi salah satu faktor utama yang membuat masa depan anak muda sulit kaya.

Biaya tempat tinggal meningkat tajam dari sekitar £3.046 per tahun pada generasi lama menjadi lebih dari £8.700 pada generasi terbaru. Lonjakan ini membuat pengeluaran semakin berat.

Selain itu, porsi pendapatan yang digunakan untuk biaya perumahan juga meningkat. Dari sekitar 17% pada generasi lama, kini mencapai hampir 23% pada generasi terbaru.

Karena itu, banyak anak muda kesulitan untuk mandiri secara finansial. Bahkan, sebagian besar harus menunda rencana memiliki rumah.

Semakin Banyak Tinggal dengan Orang Tua

Dampak langsung dari tingginya biaya hidup adalah meningkatnya jumlah anak muda yang masih tinggal bersama orang tua. Tren ini terus naik dari generasi ke generasi.

Pada generasi lama, sekitar seperempat anak muda masih tinggal di rumah orang tua pada usia 25 tahun. Namun, angka tersebut kini melonjak hingga lebih dari 40%.

Selain itu, tingkat kepemilikan rumah juga turun drastis. Jika sebelumnya lebih dari 40% anak muda sudah memiliki rumah, kini hanya sekitar 14% yang mampu mencapainya.

Perubahan ini menunjukkan pergeseran pola hidup yang signifikan. Anak muda kini lebih bergantung pada keluarga dibandingkan generasi sebelumnya.

Masa Depan Anak Muda Sulit Kaya, Apa Penyebabnya?

Fenomena masa depan anak muda sulit kaya tidak terjadi tanpa sebab. Ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi kondisi ini.

Pertama, pertumbuhan produktivitas yang melambat membuat kenaikan upah tidak lagi signifikan. Kedua, biaya hidup terutama perumahan meningkat lebih cepat dibandingkan pendapatan.

Selain itu, perubahan struktur pasar kerja juga berperan. Banyak pekerjaan kini bersifat tidak tetap atau berpenghasilan tidak stabil.

Namun, meskipun situasinya menantang, kondisi ini bukan berarti generasi muda mengalami kemunduran drastis. Masalah utamanya adalah stagnasi, bukan penurunan tajam.

Tantangan Antargenerasi Semakin Terasa

Jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, perbedaan terbesar terletak pada hilangnya kemajuan antargenerasi. Dahulu, setiap generasi memiliki peluang lebih baik dari orang tuanya.

Kini, harapan tersebut mulai memudar. Generasi muda menghadapi realitas bahwa mereka harus bekerja lebih keras untuk mencapai standar hidup yang sama.

Meskipun begitu, optimisme tetap diperlukan. Dengan kebijakan ekonomi yang tepat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, peluang perbaikan tetap terbuka.

Karena itu, memahami tantangan ini menjadi langkah awal untuk mencari solusi. Masa depan anak muda sulit kaya memang nyata, namun bukan berarti tidak bisa diubah.

Baca Juga