JAKARTA, JobKita.com – Sejumlah pekerjaan yang berisiko terpapar penyebab kanker perlu mendapat perhatian. Risiko tersebut dapat muncul dari paparan bahan kimia, debu, asap, radiasi, hingga pola kerja tertentu.
Kanker terjadi ketika sel tubuh tumbuh secara tidak terkendali. Penyebabnya beragam dan dapat melibatkan faktor genetik, gaya hidup, lingkungan, serta paparan tertentu dalam jangka panjang.
Karena itu, pekerjaan seseorang juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Namun, memiliki pekerjaan tertentu tidak berarti seseorang pasti akan terkena kanker. Risiko sangat bergantung pada jenis paparan, durasi, intensitas, serta perlindungan yang digunakan.
Pekerjaan yang Berisiko Terpapar Penyebab Kanker
Berikut sejumlah pekerjaan yang memiliki potensi paparan terhadap faktor karsinogen atau kondisi kerja yang perlu diwaspadai.
1. Pekerja konstruksi
Pekerja konstruksi dapat berhadapan dengan debu, asap, bahan kimia, dan material bangunan. Pada bangunan lama, paparan asbes juga menjadi perhatian penting.
Selain itu, pekerja yang terlibat dalam pengecatan dapat terpapar berbagai bahan kimia. Karena itu, penggunaan alat pelindung diri dan pengendalian debu sangat penting.
2. Pekerja tambang
Lingkungan pertambangan dapat memiliki berbagai sumber paparan. Debu, radon, mineral tertentu, serta emisi mesin diesel menjadi beberapa perhatian.
Paparan knalpot diesel juga telah diklasifikasikan sebagai karsinogen bagi manusia oleh International Agency for Research on Cancer (IARC). Paparan tersebut terutama berkaitan dengan peningkatan risiko kanker paru-paru.
3. Mekanik kendaraan
Mekanik dapat terpapar asap mesin, oli, pelarut, debu, dan bahan kimia tertentu. Lingkungan bengkel yang kurang memiliki ventilasi juga dapat meningkatkan paparan.
Sementara itu, knalpot diesel menjadi perhatian khusus. IARC mengategorikan emisi mesin diesel sebagai karsinogen bagi manusia.
4. Pekerja industri karet dan plastik
Proses produksi karet dan plastik dapat melibatkan berbagai bahan kimia. Risiko bergantung pada bahan yang digunakan dan sistem pengendalian paparan di tempat kerja.
Karena itu, pekerja perlu mengikuti prosedur keselamatan. Ventilasi, alat pelindung, dan pemantauan lingkungan kerja menjadi bagian penting dalam pencegahan.
5. Petani
Petani dapat berhadapan dengan pestisida, pupuk, bahan bakar, debu, dan emisi mesin. Beberapa penelitian juga menemukan hubungan antara paparan pestisida tertentu dengan jenis kanker tertentu.
Namun, tidak semua pestisida memiliki tingkat bahaya yang sama. Risiko bergantung pada jenis bahan, dosis, frekuensi, dan cara penggunaannya.
6. Pemadam kebakaran
Petugas pemadam kebakaran menghadapi risiko dari asap dan hasil pembakaran. Material bangunan yang terbakar dapat menghasilkan berbagai zat berbahaya.
IARC telah mengklasifikasikan paparan pekerjaan sebagai pemadam kebakaran sebagai karsinogen bagi manusia. Bukti yang cukup ditemukan untuk mesothelioma dan kanker kandung kemih.
Selain itu, petugas dapat terpapar asap diesel, bahan kimia, serta material bangunan. Perlindungan pernapasan dan prosedur dekontaminasi menjadi sangat penting.
7. Teknisi radiologi
Teknisi radiologi bekerja dengan peralatan yang menghasilkan radiasi pengion. Karena itu, pengendalian paparan menjadi bagian utama keselamatan kerja.
Penggunaan pelindung dan pemantauan dosis radiasi diperlukan sesuai prosedur keselamatan. Risiko tidak hanya ditentukan oleh profesinya, tetapi juga oleh tingkat dan durasi paparan.
8. Penata rambut
Penata rambut dapat bersentuhan berulang kali dengan berbagai produk kimia. Pewarna rambut, pelurus, dan bahan perawatan tertentu dapat menghasilkan paparan melalui kulit atau udara.
Karena itu, sarung tangan dan ventilasi yang baik dapat membantu mengurangi kontak langsung. Pekerja juga perlu mengikuti petunjuk keselamatan setiap produk.
9. Pekerja laboratorium
Teknisi laboratorium dapat menggunakan pelarut dan bahan kimia tertentu. Benzena, misalnya, merupakan bahan yang perlu dikendalikan karena memiliki sifat karsinogenik.
Risiko sangat dipengaruhi oleh jenis bahan yang digunakan. Selain itu, cara penyimpanan, ventilasi, dan prosedur kerja juga menentukan tingkat paparan.
10. Pekerja pembersihan dan dry cleaning
Beberapa proses pembersihan menggunakan pelarut kimia. Pekerja dapat mengalami paparan melalui udara maupun kontak dengan bahan tersebut.
Karena itu, sistem ventilasi dan prosedur penanganan bahan kimia perlu diperhatikan. Penggunaan alat pelindung juga harus disesuaikan dengan karakter bahan.
11. Pekerja dengan sistem shift malam
Pekerja malam menghadapi kondisi yang berbeda dari pekerjaan pada jam normal. Perubahan pola tidur dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh.
IARC mengklasifikasikan kerja malam sebagai probably carcinogenic to humans atau Group 2A. Penilaian tersebut didasarkan pada bukti terbatas pada manusia dan bukti yang lebih kuat dari penelitian eksperimental.
Namun, klasifikasi tersebut tidak berarti setiap pekerja malam pasti mengalami kanker. Faktor lain tetap berpengaruh terhadap risiko seseorang.
12. Kru dan pilot penerbangan
Pekerja penerbangan dapat mengalami paparan radiasi kosmik selama berada di ketinggian. Pilot juga dapat menerima paparan ultraviolet melalui kaca kokpit.
Karena itu, perlindungan kulit dan pemeriksaan kesehatan tetap penting. Risiko kesehatan kru penerbangan perlu dilihat berdasarkan durasi terbang dan karakter paparan.
13. Pekerja industri pengecatan
Pengecatan dapat melibatkan berbagai pelarut dan bahan kimia. Paparan berulang tanpa perlindungan memadai perlu dihindari.
Ventilasi menjadi salah satu faktor penting. Pekerja juga harus menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai dengan bahan yang digunakan.
14. Pekerja kantor yang terlalu banyak duduk
Pekerjaan di balik meja tidak sama dengan pekerjaan yang langsung terpapar bahan karsinogen. Namun, aktivitas fisik yang rendah dapat berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan.
Karena itu, pekerja kantor sebaiknya tidak duduk terus-menerus sepanjang hari. Berdiri, berjalan singkat, dan melakukan aktivitas fisik secara rutin dapat membantu menjaga kesehatan.
Cara Mengurangi Risiko di Tempat Kerja
Risiko pekerjaan dapat dikurangi dengan pengendalian yang tepat. Pekerja sebaiknya tidak hanya mengandalkan alat pelindung diri.
Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:
- Kenali bahan kimia dan bahaya di lingkungan kerja.
- Gunakan alat pelindung diri sesuai standar.
- Pastikan ruangan memiliki ventilasi yang memadai.
- Hindari makan atau minum di area yang terkontaminasi.
- Ikuti prosedur keselamatan kerja.
- Cuci tangan setelah menangani bahan berbahaya.
- Lakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan pekerjaan.
- Kurangi paparan asap dan debu sebanyak mungkin.
- Jaga aktivitas fisik jika pekerjaan mengharuskan duduk lama.
- Hindari merokok karena tembakau merupakan faktor risiko utama berbagai kanker.
Selain itu, perusahaan memiliki peran besar dalam mengendalikan bahaya. Penggantian bahan berbahaya, sistem ventilasi, pelindung mesin, pemantauan lingkungan, serta pelatihan pekerja dapat menjadi bagian dari pencegahan.
Pekerjaan Bukan Berarti Penyebab Tunggal Kanker
Penting untuk memahami bahwa hubungan antara pekerjaan dan kanker tidak selalu sederhana. Risiko kanker dapat dipengaruhi banyak faktor secara bersamaan.
Contohnya, seorang mekanik mungkin terpapar emisi diesel. Namun, kebiasaan merokok juga dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru secara signifikan. IARC menyebut merokok sebagai faktor risiko utama kanker paru-paru.
Meskipun begitu, paparan di tempat kerja tetap perlu dikendalikan. Semakin rendah paparan terhadap bahan berbahaya, semakin baik upaya perlindungan kesehatan pekerja.
Pada akhirnya, daftar pekerjaan yang berisiko terpapar penyebab kanker bukan alasan untuk menghindari profesi tertentu. Informasi tersebut lebih penting sebagai pengingat agar pekerja dan perusahaan memahami bahaya yang mungkin muncul.
Dengan prosedur keselamatan yang baik, penggunaan perlindungan yang tepat, dan pengawasan rutin, risiko paparan dapat ditekan. Karena itu, keselamatan kerja harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar aturan di atas kertas.
Catatan: Artikel ini bersifat informatif dan tidak dapat digunakan untuk menentukan diagnosis atau risiko kanker secara individual. Risiko setiap pekerja dapat berbeda berdasarkan jenis dan tingkat paparannya.





